Ketika Niat Baik Raja Membuat Rakyat Menderita

waktu baca 5 menit Minggu, 25 Oktober 2026 06:59
5 Lampung Monitor
IMG-20261025-WA0028

Oleh : Mulyono Bela Budaya

 

Konon, di sebuah negeri bernama Rimba Sentosa, hiduplah seekor harimau yang dinobatkan menjadi raja karena aumannya paling menggelegar. Ia bernama Baginda Mahadarma, penguasa yang gemar mengucapkan satu kalimat setiap kali berpidato di hadapan rakyatnya.

“Segala yang hamba lakukan adalah demi kesejahteraan kalian!”

Kalimat itu begitu sering terdengar hingga burung beo tak perlu lagi belajar bahasa lain. Cukup mengulang ucapan sang raja, ia sudah dianggap sebagai penyambung lidah istana.

Suatu hari, Baginda melihat rakyatnya kesulitan mencari makanan. Kelinci menggali tanah hingga kukunya patah, rusa berjalan jauh mencari rumput, sementara semut mengangkut biji-bijian dengan punggung yang nyaris patah.

Baginda pun terharu.

“Mulai besok, seluruh makanan harus dikumpulkan di istana agar pembagiannya adil. Tak boleh ada rakyat yang kelaparan!”

Para menteri bertepuk tangan. Kebijakan itu disebut sebagai terobosan besar dalam sejarah rimba.

Namun, sejak aturan berlaku, makanan yang dahulu bisa ditemukan di sekitar sarang kini harus melewati meja pencatatan, pos pemeriksaan, dan loket persetujuan yang dijaga monyet berseragam.

Makanan memang masih milik rakyat. Hanya saja, rakyat harus mengantongi izin untuk memakannya.

Ketika seekor kelinci mengadu karena belum mendapat jatah, Baginda menggeleng kecewa.

“Dasar rakyat tak tahu bersyukur! Bukankah sekarang semuanya sudah tertata?”

Kelinci menunduk. Ia ingin menjelaskan bahwa perutnya tidak bisa kenyang hanya dengan mendengar kata tertata. Namun, ia tahu, di negeri itu, mengkritik aturan terkadang dianggap lebih buruk daripada melanggar aturan itu sendiri.

 

Tahun berikutnya, Baginda menggagas pembangunan Jalan Kemakmuran agar seluruh penghuni hutan mudah bepergian.

Pohon-pohon ditebang, tanah diratakan, dan sungai kecil yang menjadi sumber air berubah keruh. Sarang burung kehilangan dahan, sementara rumah kelinci tertimbun tanah pembangunan.

Seekor landak tua akhirnya memberanikan diri menghadap istana.

“Baginda, jalan yang Paduka bangun memang lebar. Tetapi rumah kami telah hilang. Kini kami punya jalan untuk pergi, tetapi tak punya tempat untuk pulang.”

Baginda terdiam sejenak, lalu memanggil juru tulis kerajaan.

“Catat! Rakyat mengakui bahwa jalan kita sudah lebar. Soal rumah yang hilang, itu persoalan lain.”

Maka diumumkanlah keberhasilan pembangunan. Papan pengumuman dipasang di berbagai sudut hutan: Rimba Maju Pesat, Akses Rakyat Semakin Luas.

Jalannya memang semakin luas. Sayangnya, ruang hidup rakyat justru semakin sempit.

 

Lama-kelamaan, Baginda heran melihat rakyatnya tak lagi tersenyum ketika rombongan kerajaan melintas.

Menteri Kancil segera memberikan jawaban.

“Barangkali rakyat kurang memahami maksud baik Paduka.”

“Kalau begitu, kita harus mendidik mereka!” titah Baginda.

Sejak saat itu, setiap penghuni rimba diwajibkan menghadiri Upacara Syukur pada malam bulan purnama. Mereka harus bertepuk tangan dan mengucapkan terima kasih atas segala program kerajaan.

Yang tidak hadir dianggap kurang memiliki semangat kebersamaan. Yang hadir tetapi tidak bertepuk tangan diminta mengikuti pembinaan. Sementara mereka yang bertanya mengapa masih kelaparan setelah sekian banyak program kesejahteraan, dipanggil untuk menjelaskan maksud pertanyaannya.

Rakyat pun belajar satu keterampilan baru: membedakan apa yang mereka rasakan dari apa yang boleh mereka katakan.

Di Rimba Sentosa, lapar masih diperbolehkan. Mengatakan bahwa mereka lapar mulai menjadi persoalan.

 

Suatu malam, seekor burung hantu tua mendatangi istana.

“Baginda, apakah seorang raja disebut baik karena niatnya, atau karena kehidupan rakyatnya?”

“Tentu karena niatnya!” jawab Baginda. “Bagaimana mungkin kalian menilai kebaikan dari hasil yang belum kalian pahami?”

Burung hantu mengangguk pelan.

“Kalau seekor harimau bermaksud menyelamatkan rusa, tetapi justru menerkamnya ketika hendak memindahkannya ke tempat aman, apakah rusa itu harus berterima kasih atas niat baik sang harimau?”

Istana mendadak sunyi.

Baginda murka. Ia memerintahkan pengawal mengusir burung hantu itu karena dianggap tidak memahami pengorbanan seorang pemimpin.

Sebelum terbang meninggalkan istana, burung hantu sempat berkata, “Barangkali hamba memang tak memahami beratnya menjadi raja, Baginda. Tetapi Paduka pun tampaknya belum pernah mencoba menjadi rakyat.”

 

Musim kemarau tiba. Sungai menyusut, rumput menguning, dan persediaan makanan menipis.

Baginda segera menggelar rapat darurat.

“Umumkan bahwa keadaan terkendali! Kita tidak boleh membiarkan rakyat panik.”

Para utusan berlari ke seluruh penjuru rimba, menyampaikan kabar bahwa persediaan masih cukup dan masa depan tetap cerah.

Sementara itu, di balik tembok istana, para koki sibuk menghidangkan daging segar untuk jamuan para menteri.

Seekor anak kijang bertanya kepada ibunya, “Ibu, kalau keadaan terkendali, mengapa perut kita masih berbunyi?”

Ibunya mengusap kepala anaknya.

“Barangkali, Nak, perut kita belum menerima surat pemberitahuan dari kerajaan.”

Anak kijang tertawa kecil. Bukan karena bahagia, melainkan karena terkadang kenyataan begitu pahit hingga hanya bisa ditertawakan.

Tak lama kemudian, binatang-binatang mulai meninggalkan Rimba Sentosa. Mereka mencari tempat lain yang masih menyediakan makanan, air, dan ruang untuk hidup.

Baginda berdiri di balkon istana, memandang hutan yang semakin sepi.

“Lihatlah, betapa damainya negeriku sekarang!” katanya kepada para menteri.

Tak ada lagi keluhan. Tak ada lagi protes. Tak ada lagi kerumunan yang mempertanyakan kebijakan istana.

Baginda mengira rakyatnya akhirnya puas.

Ia tidak menyadari bahwa mereka bukan berhenti mengeluh. Mereka hanya berhenti berharap.

Di singgasananya, Baginda Mahadarma tetap merasa sebagai raja yang baik. Ia tak pernah berniat menghancurkan negerinya. Ia hanya terlalu yakin bahwa niat baik selalu menghasilkan kebaikan, dan bahwa rakyat yang menderita hanyalah rakyat yang belum memahami kebesaran pemimpinnya.

Sementara itu, nama Rimba Sentosa masih terpampang megah di gerbang kerajaan. Istana tetap berdiri, prasasti pembangunan masih berkilau, dan laporan keberhasilan terus dibacakan.

Hanya rakyatnya yang semakin sedikit.

Sebab sebuah negeri tak selalu hancur ketika istananya terbakar. Terkadang, negeri itu mulai runtuh ketika penguasanya terlalu sibuk membuktikan bahwa dirinya benar, sampai lupa memastikan rakyatnya baik-baik saja.

Dan ada satu hal yang tak pernah dipahami Baginda Mahadarma: rakyat mungkin bisa dipaksa bertepuk tangan, tetapi tak ada kekuasaan yang mampu memerintahkan perut orang lapar untuk merasa kenyang.

Berita Terkait