Tidak Semua Orang yang Ingin Memimpin, Mampu Menjadi Pemimpin

waktu baca 3 menit Sabtu, 7 November 2026 07:47
5 Lampung Monitor
IMG-20261107-WA0012

Oleh: Magel Hen

Wartawan media online

 

Tahun 2010, di sebuah kamar kecil mess perusahaan gula di Way Kanan, saya pernah tinggal bersama tiga orang kawan, yakni Damiri, Teddy, dan Irawan. Kami berempat masih lajang. Saat itu usia saya 25 tahun, sedangkan ketiga kawan lainnya berusia sekitar 19 hingga 20 tahun.

Namanya juga anak muda yang masih menikmati masa lajang. Puntung rokok, bungkus makanan, dan sampah lainnya sering berserakan di kamar. Berkali-kali saya mengomel agar mereka menjaga kebersihan, tetapi kebiasaan itu terus berulang. Sepertinya omelan saya tidak pernah benar-benar didengar.

Akhirnya, muncul ide iseng dalam pikiran saya. Saya mengumpulkan mereka dan mengusulkan agar di kamar itu ada seorang pemimpin yang kami sebut kepala kamar. Istilah tersebut terinspirasi dari sebutan yang sering digunakan dalam kehidupan di lapas.

Saya menjelaskan tugas dan tanggung jawab seorang kepala kamar. Setelah semuanya sepakat, kami pun mengadakan pemilihan melalui voting.

Supaya adil, semua nama harus dimasukkan sebagai calon. Tidak boleh ada yang dikecualikan, termasuk nama sendiri. Kami menggunakan sebuah toples plastik yang ditutup kertas sebagai tempat memasukkan suara.

Hasilnya cukup menarik. Dari empat suara, Damiri mendapatkan dua suara, masing-masing dari saya dan Teddy. Satu suara diberikan kepada saya oleh Damiri, sementara satu suara lainnya diberikan Irawan untuk dirinya sendiri.

Damiri akhirnya terpilih menjadi kepala kamar.

Saya kemudian bertanya kepada Damiri mengapa dia tidak memilih dirinya sendiri. Jawabannya cukup sederhana.

“Saya nggak yakin bisa jadi kepala kamar. Sementara di kamar ini Anda yang paling tua, jadi saya menghargai Anda.”

Padahal, saya sendiri juga tidak memilih nama saya. Bukan karena tidak menghargai kepercayaan orang lain, tetapi karena saya merasa belum mampu menjalankan tanggung jawab sebagai kepala kamar.

Teddy juga tidak memilih dirinya sendiri. Dia merasa paling muda di antara kami dan menganggap Damiri lebih pantas. Saya dan Teddy memiliki penilaian yang sama karena Damiri memang dikenal paling rajin.

Sementara Irawan memilih dirinya sendiri. Saat itu, dia belum benar-benar memahami maksud dan tujuan pemilihan tersebut.

Dari kejadian sederhana itu, saya mendapatkan sebuah pelajaran yang sampai hari ini masih relevan, bahkan dalam kehidupan organisasi, pemerintahan, dan politik.

Menjadi pemimpin seharusnya dimulai dari kemampuan mengenali diri sendiri. Bukan sekadar memiliki keinginan untuk berkuasa atau menduduki sebuah jabatan.

Ada satu hal yang terkadang membuat saya heran. Mengapa sebagian orang begitu berambisi menjadi pemimpin, tetapi tidak pernah terlebih dahulu bertanya kepada dirinya sendiri: Apa kemampuan saya? Apa keahlian saya? Apa yang bisa saya kerjakan? Dan apakah saya benar-benar mampu menjalankan tanggung jawab tersebut?

Jangan sampai seseorang merasa pantas menjadi pemimpin hanya karena memiliki banyak uang, kuat secara politik, punya jaringan luas, atau mampu mengumpulkan dukungan.

Uang mungkin bisa membuka jalan menuju kekuasaan. Kekuatan politik mungkin bisa mengantarkan seseorang menduduki jabatan. Namun, semua itu tidak otomatis menjadikan seseorang memiliki kemampuan memimpin.

Jabatan bukan sekadar kursi untuk dibanggakan. Ada tanggung jawab, ada kepentingan orang banyak, dan ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Karena itu, kemampuan, pengalaman, integritas, serta keahlian seharusnya menjadi pertimbangan penting sebelum seseorang memaksakan diri menjadi pemimpin.

Kalau memang belum punya kemampuan, mengapa harus memaksakan diri menjadi pemimpin hanya karena memiliki modal uang dan kekuatan politik?

Bagi saya, tahu diri bukan berarti rendah diri. Tahu diri adalah keberanian mengukur kapasitas diri sendiri, memahami keterbatasan, dan mengakui ketika ada orang lain yang lebih mampu.

Pengalaman kecil di kamar mess pada tahun 2010 itu mengajarkan saya bahwa orang yang merasa tidak mampu belum tentu tidak memiliki potensi. Sebaliknya, orang yang paling berambisi menjadi pemimpin belum tentu memiliki kapasitas untuk memimpin.

Jangan hanya sibuk mencari cara agar terpilih menjadi pemimpin. Sebelum itu, tanyakan dahulu kepada diri sendiri: apakah saya punya kemampuan untuk memimpin?

Sebab, masyarakat tidak membutuhkan orang yang sekadar ingin menjadi pemimpin. Masyarakat membutuhkan pemimpin yang benar-benar mampu bekerja dan mempertanggungjawabkan kepercayaannya.

Berita Terkait